IST AKPRIND bekerjasama dengan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) DIY menyelenggarakan Workshop Manajemen Arsip Digital Berbasis Arteri, Rabu (07/3). Dalam workshop yang di selenggarakan di Auditorium IST AKPRIND juga selenggarakan penandatanganan nota kesepahaman bersama antara FPPTI DIY dengan IST AKPRIND tentang pengembangan sumber daya manusia dibidang kepustakaan. Dari pihak FPPTI diwakili oleh Sri Astuti, SIP., MIP. selaku wakil ketua FPPTI DIY sementara   Rektor IST AKPRIND, Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T. bertindak selaku pihak dari IST AKPRIND.

Hadir sebagai pembicara, Hendra Wicaksono, S.Hum., MIP pengajar di Universitas YARSI Jakarta dengan membawakan materi Manajemen Arsip Digital Berbasis Arteri. Pada kesempatan tersebut, Hendra Wicaksono menyampaikan bahwa Arteri merupakan opensource buatan Indonesia yang ditujukan untuk mempermudah pengelolaan arsip. Dengan menggunakan Arteri, operator lebih mudah mengelola arsip dan diimplementasikan dalam unit kerjanya. Kelebihan Arteri lainnya, karena berupa opensource, maka dapat dimodifikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan serta lisensinya mudah didapatkan baik untuk kebutuhan komersian maupun non komersial. Sementara pembicara kedua dalam workshop ini adalah adalah Muhammad Sholeh, S.T., M.T, assesor kompetensi bidang informatika yang juga  dosen Teknik Informatika IST AKPRIND. Muhammad Sholeh, S.T., M.T., menyampaikan materi tentang trend teknologi digitalisasi dokumen. Menurut Muhammad Sholeh, dengan teknologi berkembang begitu cepat, data-data digital harus tersimpan dengan format yang diperkirakan tetap akan digunakan selama beberapa tahun kedepan. Jangan sampai format dokumen yang digunakan saat ini, tahun berikutnya sudah tidak dapat digunakan lagi. Selain itu adalah mengenai keamanan data, karena terdapat kecenderungan akses yang mudah digunakan memiliki tingkat keamanan rendah sementara apabila tingkat keamanannya tinggi, aksesnya sulit. Sehingga kedua hal tersebut perlu dikembangkan bersama.

Ketua panitia kegiatan, Hartono, SIP,MIP mengakui bahwa digitalisasi arsip sudah sangat lama didengungkan, namun belum semua institusi menerapkannya. Padahal arsip bukan hanya sekedar dokumentasi, namun juga sebagai bahan evaluasi institusi untuk pengembangan kedepan. Sedangkan pengarsipan berbasis Arteri telah dilaunching di Jakarta beberapa waktu yang lalu, namun untuk workshopnya baru diselenggarakan pertama kali ini dan diselenggarakan di IST AKPRIND, ungkap sosok yang juga kepala UPT Perpustakaan IST AKPRIND tersebut. Dalam workshop ini diikuti tak kurang oleh 80 pustakawan dari berbagai Perguruan Tinggi di Yogyakarta serta beberapa peserta berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hartono mengakui pihaknya terpaksa membatasi jumlah peserta agar pelaksanaan workshop berjalan dengan maksimal. FPPTI DIY sebelumnya hanya menargetkan 60-70 peserta namun animo pustakawan perguruan tinggi di DIY ternyata sangat tinggi sehingga pihaknya membatasi hanya sampai 80 peserta.(tdj)



Isi berita diunggah oleh admin perguruan tinggi, dan menjadi tanggung jawab admin perguruan tinggi tersebut.