Growol atau cooked-fermented cassava merupakan pangan pokok lokal penduduk desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo-DIY yang berpotensi sebagai probiotik, karena mengandung bakteri Lactobacillus sp. Efek mengkonsumsi growol secara teratur setiap hari terbukti mampu menghambat prevalensi diare.

Perkembangan produksi growol di dusun Sangon I dan Sangon II, desa Kalirejo, dimulai pada tahun 2013. Ketika itu pengrajin rata-rata hanya mengolah 0,5 kuintal atau 50 kg ubikayu per minggu. Namun setelah dilakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) yang dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Chatarina Wariyah, MP dari Fakultas Agroindustri dan Drs Subarjo dari Fakultas Ekonomi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, setiap hari jumlah ubikayu yang diolah mencapai  sekitar 2-3 kuintal atau 1-1.5 ton per minggu.  Pengrajin di kedua dusun tersebut disatukan dalam kelompok dengan nama kelompok “Growolkulon Progo Hebat”. Pemasaran sudah sampai ke pedagang-pedagang eceran atau dengan membuka “warung growol”. Growol dikemas dalam daun pisang dan plastik/mika (0,5 kg growol/kemasan) dengan rasa manis atau gurih. Growol dalam kemasan kecil dimaksudkan agar lebih praktis dalam penjualan dan lebih higienis.

Seiring meningkatnya produksi growol, meningkat pula limbah cair yang harus dibuang. Limbah cair yang dihasilkan dari industri growol adalah air bekas untuk merendam/fermentasi ubi kayu yang jumlahnya mencapai 500 L/sekali proses, air cucian fermented cassava  yang jumlahnya 3-5 air rendaman. Saat ini limbah industri growol dialirkan ke sungai yang jaraknya sekitar 500 m dari tempat industri dan melewati pemukiman warga. Padahal air rendaman memiliki sifat asam dengan pH 3,9 – 3,99 dengan keasaman tertitrasi antara 0,22-1,69 (Wariyah dan Luwihana, 2016). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai BOD (Biological Oxygen Demand)  air buangan industri growol mencapai 6182, 50 mg/L, COD (Chemical Oxygen Demand)  6491,52 mg/L,  sedangkan menurut Peraturan Menteri Lingkungan  RI No. 5 tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah khususnya limbah pengolahan ubikayu, dikatakan bahwa pH limbah antara 6,0 -9,0 dengan maksimum BOD 150 mg/L dan COD 300 mg/L. Hal ini mengakibatkan air sumur di sekitar industri growol berasa dan berbau asam yang mengganggu dan dapat menyebabkan kontaminasi yang berakibat tidak baik terhadap kesehatan. Oleh karena itu TIM PPM berusaha mengadakan sistem penanganan limbah.

Berdasarkan hasil pembicaraan dengan pengrajin growol dan tokoh masyarakat, maka disetujui dibuatkan tempat penanganan limbah berupa bak pengendapan yang dihubungkan dengan peresapan yang mengalir secara kontinyu. Endapan pati akan digunakan untuk pakan ternak, sedangkan limbah cairnya masuk peresapan dan tidak dialirkan ke sungai. Dengan demikian, dampak limbah tersebut tidak merugikan penduduk sekitarnya dan limgkungan tetap terjaga aman.  karena limbah langsung terikut air sungai. 



Isi berita diunggah oleh admin perguruan tinggi, dan menjadi tanggung jawab admin perguruan tinggi tersebut.